Separuh Perjalanan

Errr.. sebenarnya tulisan ini mau diposting dari kapan tauk, cuman...cuman...cuman koq gak selesai-selesai ya nulisnya.

Baiklah...let me share my journey, this story begins on a day in the month of september
istri: "eh sekarang tanggal berapa ya"
suami: "26 september"
istri: "eh coba hitungin deh dari 18 agustus ke 26 september berapa hari."
suami: "40 hari"
istri: "sekarang coba liatin catetan di hp ku, siklus juli ke agustus berapa hari."
suami: "42 hari, emang kenapa sih"
istri: "eh tau gak.. aku belum mens loh, boleh testpack gak."
suami: "GAK BOLEH"
istri: "ih kenapa emangnya"
suami: "ntar aja kalo udah lewat 45 hari belom mens, baru testpack"
istri: "pelittttt ih"
suami: "woiiiii cepetan mandinya, jangan kebanyakan ngomong"

Malam harinya...
suami: "udah selesai kan? yuk pulang"
istri: "hoooh" kemudian hoek-hoek-hoek
suami: "kenapa kamu? telat makan ya.."
istri: "iya kayanya"

Pukul 22.00
istri: " kayanya aku dapet deh, barusan keluar flek"
suami: "masa sih?"
istri: "iya beneran"
suami: "kayanya bukan dapet deh"
istri: "ya terus kalo gak dapet, itu flek apaan?"
suami: "..."
istri:"udah ah.. besok aku mau di rumah aja, jadi males buat jaga" tidur munggungin suami sambil nangis
suami: "ya udah aku cari dulu ya.. yang bisa gantiin kamu besok. tapi kalo misalnya gak dapet, kamu tetap jaga ya"
istri: *masih nangis dan makin kenceng*

Pukul 23.00
suami: "ya udah besok kamu istirahat aja ya di rumah, soalnya sigit bisa nih gantiin kamu"
istri: *pura-pura tidur*
suami: "aku yakin koq kalo kamu gak dapet" cium kening istri
istri: *pura-pura tidur, sampai ketiduran beneran"

Keesokan harinya...
Istri nelpon suami
istri: "eh tau gak, masa fleknya gak keluar-keluar lagi loh. aneh yaaa"
suami: "dibilangin.. aku yakin kamu gak dapet"
istri: "ya terusss apa donk... udah deh ntar kamu pulang cepet ya, kita periksa ke dokter, lagipula semenjak keguguran kan belum kontrol lagi"
suami: "iyaaa..mau periksa dimana?"
istri: "hermina aja, tapi kamu yang daftar ya"
suami: "iyaaa"

Malam harinya di RS
Perawat: "Malem bu, mau ke dokter siapa"
Istri: "dr. Maman"
Perawat: "dr. Maman baru aja pulang bu"
Istri: "Terus yang ada tinggal dokter siapa?"
Perawat: "Tinggal dokter F bu"
Istri: "Ya udah deh mbak sama dokter F aja"

Ruang Periksa dokter F
dr.F: "Selamat Malam"
Suami&Istri: "Malam dok"
dr.F: "Kenapa ini?"
Istri: "Setelah keguguran 3 bulan lalu, siklus saya koq jadi gak teratur ya dok, siklus nya jadi memanjang"
dr.F: "Oke kita cek dulu ya"

Setelah anamnesa, dokter F lalu melakukan pemeriksaan USG abdomen.

Dan..

Bagai tersambar petir ketika dokter F berkata "sepertinya ada miom", lalu pemeriksaan dilanjutkan dengan USG transvaginal dan dokter F kekeuh "iya ini miom kayanya" saya lemas mendengar pernyataan dokter tersebut meskipun dalam hati saya juga mikir "koq bisa ya miom nya baru ketauan sekarang, 3 bulan lalu pas keguguran dokternya gak bilang apa-apa, dan waktu periksa sama Prof yang terkenal itu juga gak ada miom".

Pikiran saya pun masih melayang-layang, ketika...
Dokter: "Ini kayanya kantung janin"
Suami: "maksudnya dok?"
Dokter: "iya ini seperti kantung janin, udah testpack belum"
Saya: "belum sih dok"
Suami: "Dok jadi miom apa bukan"
Dokter: "Kemungkinan sih ada miom, tapi juga kayanya mbaknya hamil"
Suami: "Hamil dok.. terus flek yang semalem itu?????"
Dokter: Sambil cengengesan "Mungkin ancaman keguguran"
Saya: "............"
Dokter: "Oke kita cek lab dulu untuk tau kadar B-hcg urine dan sekalian konsul ke sub spesialis onkologi ya.. Untuk memastikan apakah miom nya mengancam kehamilan atau tidak"
Suami: "Iya dok"
Saya: "............"

Kemudian kami pun ke laboratorium untuk cek urine, sambil menunggu hasil saya masih linglung (jujur saya masih trauma dengan kehamilan pertama saya)
Petugas Lab: "Nona Annisa"
Suami: "Iya bu"
Petugas Lab: "Ini masih Nona atau sudah menikah" melirik penuh curiga
Suami: "Sudah bu"
Temannya Petugas Lab: "Ooo.." diikuti suara teman-temannya
Petugas Lab: "Ini hasilnya ya, Selamat ya pak.. Ohya pak nanti sekalian ke administrasi untuk konfirmasi statusnya kalau sudah menikah"
Suami: "Baik bu, terima kasih"

Sementara saya menelpon Ibu dan Mamah, memberi tahu tentang keadaan saya. Ini sebenarnyaa berita bahagia atau gimana yaaa.. Saya juga bingung karena saya takut sekali jika memang benar saya hamil dan ternyata kehamilan saya bermasalah dan harus kehilangan calon anak kami untuk kedua kalinya (naudzubillah min dzalik), jadi saya memilih diam dalam kebahagiaan ini, dan terus menerus berdoa "semoga memang ini rejeki kami Ya اَللّهُ " (aamiin YRA).

Saya masih dagdigdug luar biasa sebelum akhirnya saya mendengar dr.Andi Darma Putra,Sp.OG mengatakan "ini adenomyosis, ان شاء الله aman kehamilannya"

Wawww... jauh-jauh berobat ke Prof, ternyata ada dokter hebat di dekat rumah saya, yang berhasil mendiagnosa adenomyosis di rahim saya, bukan miom ataupun endometriosis. Dan karena si dokter pintar ini, akhirnya pak suami memutuskan untuk ANC di RS Hermina saja, setelah sebelumnya kami pernah membahas kalau saya hamil lagi, kami akan tetap ANC dengan dr.Bote, namun mempertimbangkan jarak dan efisiensi insya اَللّهُ RS Hermina Depok ini yang terbaik (AAMIIN YRA).

Saya masih tetap harus bedrest, karena kadang-kadang masih keluar flek meski hanya sedikit sekali. Bagi saya ini tak mengapa, karena ini berarti perjuangan saya untuk menjadi seorang ibu masih terus berjalan. Insya اَللّهُ ini akan menjadi awal perjuangan yang indah (AAMIIN YRA)

Selasa sore menjelang maghrib, saya munmun berkali-kali, setelah munmun saya BAK dan saat itu saya liat ada darah segar yang menetes, saya positive thinking kalau itu tadi cuma halusinasi, kemudian saya lanjut ambil wudhu lalu sholat maghrib sambil tiduran, selesai sholat saya liat lagi CD saya yang ternyata sudah berubah warna menjadi merah segar, saya langsung teriak memanggil adik saya, meminta ia untuk memasukan cygest supposutoria. Namun adik saya tidak berani karena melihat banyaknya darah yang mengalir, adik saya langsung memberitahu bapak yang baru saja pulang dari masjid, akhirnya tanpa pikir panjang bapak menggendong saya ke dalam mobil, lalu kami bertiga menuju RS Hermina Depok. Saya mengabari suami,ibu dan mamah, sepanjang perjalanan saya hanya bisa dzikir. Entah mengapa semua ini terasa seperti peristiwa 3 bulan lalu. Tapi perasaan saya saat itu, saya merasa lebih kuat dibanding peristiwa 3 bulan lalu.

Sampai di RS Hermina, saya dilarikan ke VK (kamar bersalin). Menunggu DSOG yang memeriksa benar-benar seperti menunggu kepastian hidup dan mati. Di VK saya ditemani adik bungsu saya. Tak lama kemudian, suami saya tiba, dia tersenyum melihat saya sambil berkata "insya اَللّهُ masih rejeki, kamu yang kuat ya sayang" mau sok tegar kaya gimanapun juga, kalo suami ngomong kaya gini pertahanan sekokoh tembok cina langsung ambrol deh.

DSOG datang memeriksa saya, bukan dokter F melainkan dokter M yang awalnya.. kami memang ingin diperiksa beliau (fyi.. dr.M ini dulunya sepulang PTT dan sebelum melanjutkan sekolah spesialis, praktek di komplek saya tinggal, dan sekarang dr.M memiliki 1 RSIA dan 2 klinik bersalin di daerah depok). Melihat perdarahan saya, dokter M menyarankan saya untuk ikhlas, lalu beliau melakukan pemeriksaan USG transvaginal
Dokter: "Kita cari sisa kantung janinnya ya bu"
Suami: "Iya dok" sambil memegangi saya yang hanya diam tanpa kata
Dokter: "Subhanallah.. Kantung janin nya masih ada 'bu, denyut nya juga masih bagus bu, ini harus dipertahankan, ibu harus dirawat disini dulu ya.. Insya اَللّهُ masih rejeki ya.. Berdoa terus ya Bu..Pak.."
Saya & Suami: "Alhamdulillah..terimakasih dok"

Melewati 36 jam observasi di VK bersebelahan dengan ibu-ibu yang teriak kesakitan karena kontraksi menjelang persalinan, sementara perdarahan saya juga masih mengalir itu benar-benar bikin stress. Akhirnya setelah diijinkan pindah ruangan, saya baru bisa istirahat.

Meski dirawat hampir seminggu di RS, Alhamdulillah perjuangan saya untuk menjadi seorang ibu masih terus berlanjut, dan saya masih harus terus bedrest sampai batas yang tidak dapat ditentukan. Kata DSOG nya sih.. "Minimal 6 minggu atau mungkin bisa selama kehamilan"

Akkkkk...

Ditambah pulak si yohan waktu jenguk bercerita "dulu mama gw sblm lahir kakak gw yang pertama juga keguguran mulu cha, terus hamil kakak gw itu perdarahan kaya lu gini, sama dokter disuruh bedrest sampai lahiran, tapi Alhamdulillah lahir lancar dan punya 4 anak"

APAHHH???

Baiklah.. demiii kamu mahluk 5mm in my womb, aku relaaa serela relanya harus berjuang mempertahankan kamu agar terus tumbuh sehat, kuat dan sempurna di dalam rahimku.


***
Dear beautiful preggos in the world, no matter how hard it was, that'll be a wonderful moments in u'r life, enjoyed every second of u'r pregnancy and be "strong-women" for "kid-in-u'r-womb"
***

Dan...
Dikira enak kali yaaa.. All day cuma bobo-boboan di tempat tidur, mau makan/minum/pipis/pup/ambil barang yang jatuh dari tempat tidur harus teriak-teriak dulu minta tolong. Yaaa kalo yang diteriakin gak kunjung datang ya harus sabar kalo bener-bener kebelet pipis. Ataupun saat tengah malem colekcolek pak suami karena kebelet pipis dan tak kunjung bangun, mari berdoa saja supaya kuat nahan pipis sampai besok pagi atau kalo emang bener-bener gak tahan.. memulai drama tidur terisak-isak dengan maksud tujuan supaya pak suami kebangun, tapi nyatanya pulesss banget loh tidurnya, baru pas menjelang subuh pak suami bangunin saya dan nanya mau pipis gak.. yaaa..kalo saya pipis gak perlu bantuin orang, sudah dipastikan saya bakalan ngambek seminggu, cuma cuma cuma kalo kekeuh ngambek yang ada ntar malah ngompol.

Dan selama bedrest saya pun rajin munmun, susah sekali makanan masuk ke mulut, makanan yang biasanya saya suka tiba-tiba berubah rasa bak bunga raflesia yang wanginya menggoncang isi perut. Dan kadang-kadang saya suka terbangun tengah malem karena nyeri ulu hati, yang mana mau gak mau harus makan, nyolek-nyolek pak suami bilang kalau pengen makan A, setelah sekian lama pak suami baru bangun dari tempat tidur menuju dapur ngambilin makanan B sambil bilang "makanan A gak ada.. abangnya udah gak jualan lagi, adanya ini, udah makan aja yang ini" dan lalu kembali tidur.

Mana ini manaaa... Suami yang kata orang-orang kalo istrinya ngidam diturutin. *kresekkresek*

Walaupun selama bedrest saya dan pak suami juga harus melalui hari-hari yang penuh drama (bukannya emang doyan drama yak hahaha), saya bersyukur sekali dikaruniai suami seperti dia. Setiap pagi setelah kami selesai sholat subuh berjamaah, dia langsung memandikan saya, kemudian menyuapi saya makan, ngasih obat, baru setelah itu siap-siap berangkat kerja, begitu terus setiap hari selama saya bedrest. Belum lagi ketika saya rewel karena selama bedrest rambut saya lepek, pak suami diam gak komentar apa-apa, tapi besok paginya, ketika memandikan saya, pak suami sudah menyiapkan banyak ember yang ternyata untuk ngeramasin (errr ini bener gak sih tata bahasanya) rambut saya. Dan juga ketika saya ketakutan harus kontrol (errr dokter saya ini suka bikin parno, bolak-balik konsul endebre endebre) dan pak suami dengan mulut manisnya berkata "ya udah setelah kontrol ini, kita ganti dokter yang bikin kamu tenang ya". And another story when "si merah" come back (again!!!), dan saya nangis-nangis ketakutan nelpon pak suami yang baru sampai kantor, dannn.. 2jam kemudian pak suami sudah dikamar meluk saya. Akkk kamuuuh...

Gongnya ketika saya masih harus bedrest saat 1st wedding anniversary kami. Kami melalui hari spesial itu sepanjang hari di tempat tidur (yaaa..moso akik nekat jalan-jalan demi 1st wedding anniversary). Nonton tv/dvd, ngobrol seharian, makanin kue sisa lamaran adik saya semalem sambil bernostalgia kejadian 1 tahun yang lalu, yang kemudian pak suami yang gak suka nulis pun menghadiahi saya sebuah tulisan mengenai pengalaman pertamanya melihat saya sampai akhirnya kami menikah dan saya tidur disampingnya. I think it's not romantic place and an expensive gift for celebrating 1st wedding anniversary, tapiiiii.. sensasi bahagianya bagai kencan pertama dengan si dia (aheeey!!!). Mungkin terkadang memang benar apa kata orang, we do not need the perfect person to be our husbands, tapi suami dengan segala kekurangan yang dimilikinya namun selalu siaga dan sedia setiap saat bagai rexona disamping kita, saat bahagia ataupun susah. Itu tuh super juara ngalahin suami paling ganteng, paling kaya, paling pinter dan paling paling yang lain.

Jujur.. seandainya saya ada di posisi suami saya saat itu, belum tentu saya bisa sesabar dia.
Thank you اَللّهُ was giving me husband like him ;")

Selama bedrest, saya sempat beberapa kali kontrol tanpa ditemani pak suami, karena pak suami harus dinas luar kota. Dan karena gak bisa menemani saya kontrol, dia tetap berusaha update kondisi saya dan calon anak kami. Seperti saat saya kontrol di minggu ke 16 kehamilan saya, setelah selesai diperiksa saya memang sengaja gak angkat telponnya, namun kemudian saya kirim hasil USG saat itu dengan keterangan "Alhamdulillah.. Umar Bin Khatab" dan gak sampai satu menit setelah menerima foto yang saya kirim, suami saya menelpon dan setelah telpon ditutup, dia pun mengganti dp bbm nya dengan hasil USG terbaru. Ngeliat itu rasanyaaa... bikin mbrebes miliii.. "Sebentar lagi kamu akan menjadi Ayah dan aku akan menjadi Ibu"

Di minggu 16 inilah saya mulai merasakan getaran-getaran di perut saya. Rasanya ajaib, apalagi semakin besar usia kehamilan, semakin keras getarannya. The best moment i ever had ;"). Di minggu 16 ini juga saya sudah bebas bedrest, Alhamdulillah.. bisa ngelakuin apa-apa sendiri tanpa bantuan orang benar-benar nikmat deh, gak perlu teriak-teriak manggil orang, atau drama sama suami lagi. Nafsu makan pun mulai membaik, bahkan berat badan saya naik drastis (Yuhuuu..metamorfosis ibu gendut dimulaiiiii..)

Masuk minggu ke 20, tadinya saya mau travelling keluar kota, bahkan sudah minta surat ijin terbang sama bu dokternya, cuma cuma cuma pak suami terlalu parno dan akhirnya batal lah saya liburan. Karena gak jadi jalan-jalan naik pesawat akhirnya travelling ke bandung. Yesss.. Kalap dong akik belanja di FO ngeborong baju tidur model piyama, yang akhirnya itu piyama. gak ada yang bisa dipake celananya karena kesempitan. Yaaa..udah tau badannya ngembang bak adonan kue yang dikasih ragi, masih sok sok an gak mau pake daster  dan belaga pake piyama segala *selftoyor*.

Perasaan waktu hamil nungguin minggu ke 20 tuh koq lambretaaa yaaa.. mana kan masih dagdigdug takut-takut trauma marissa menghantui diri ini. Eh koq sekarang tau-tau udah minggu 30 aja. Badan semakin melebar, perut semakiiiiin membesar, gerakan si mahluk yang awalnya berukuran 5mm sudah semakin dahsyat, karena ukurannya pun sudah semakin besar. Dan dalam hitungan minggu, status saya dan suami berubah menjadi ibu-ibu dan bapak-bapak, rasanya koq wowww banget yaaa.. benar-benar perjalanan hidup yang luar biasa.

Mirip sapaaa inih... kalo liat muka gembul mirip pak suami,
kalo liat idung penyet dan bibir manyun mirip saya
Nah tapi kalo foto yang ini pak suami banget mukanya,
kalo kata oma nya "ayooo di edit di photoshop dulu sebelum lahir biar ambil yang bagus-bagusnya aja"
yaaa kalo bisa kaya gitu mau banget yak.. tapi yg penting mirip orangtuanya,  sehat  sempurna dan tidak kurang satu apapun 
AAMIIN YRA
Alhamdulillah.. separuh perjalanan menjadi bumil telah terlewati, dan masih ada separuh perjalanan lagi yang menanti saya menuju babak kehidupan baru, menjadi seorang "IBU", pekerjaan baru yang tidak mengenal istirahat, 24 jam sehari, satu minggu full, dan seumur hidup, yang tiap tetes keringat dihasilkannya karena ikhlas, surga bayarannya.

Mudah-mudahan saya berhasil melalui separuh perjalanan saya menuju babak baru kehidupan saya dengan normal, sehat dan selamat, tidak kurang satu apa pun. AAMIIN YRA..

***
Ibunda masih ingat jelas saat kamu pergi meninggalkan ayah dan ibunda. "Kenapa kamu harus pergi begitu cepat" tanya kami saat itu. Namun kami sadar, kami harus ikhlas dengan kepergianmu 'nak. Salah satu pesan kami saat itu "Hey GAZA anakku sayang, tolong sampaikan kepada اَللّهُ ya nak, supaya اَللّهُ segara kirim adek baru untuk bunda, terimakasih sayangku". Subhanallah.. 3 bulan setelah kepergianmu 'nak.. اَللّهُ kirim hadiah untuk ibunda dan ayah, tolong sampaikan rasa terimakasih ayah dan ibunda pada اَللّهُ , kami janji berusaha amanah menjaga hadiah indah ini. Kamu baik-baik ya 'nak disana, ان شاء الله kita akan bertemu kembali di syurga. Peluk sayang ibunda dan ayah untuk kamu 'nak.
***

Akhir kata... Hamdallah tulisan ini selesai juga akhirnya hahaha...