Kisah Tentang Bude

Malam itu selepas berbuka puasa dì Pati kami sekeluarga melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Namun seperti sudah menjadi kebiasaan, kami selalu mampir dì Tuban. Tuban merupakan tempat tinggal Bude, Bude merupakan ART keluarga saya dari semenjak saya baru lahir dan lulus SMA. Nama aslinya Samsinah, cuma karena usianya yang lebih tua darui kedua orangtua saya, kamipun memanggilnya Bude (panggilan bahasa jawa untuk kakak perempuan ibu/bapak).
Menurut cerita ibu awal mula ikut keluarga kami secara tidak sengaja, hari itu ibu yang baru saja melahirkan saya dì Surabaya akan pindah ke Jakarta menyusul Bapak yang sudah lebih dahulu bekerja dì Jakarta. Dì stasiun pasar turi, ibu menunggu yangti yang katanya mau datang bawa ART untuk ikut ibu ke jakarta. Tak lama kemudian yangti pun datang dengan seorang wanita yang tampak lusuh dan sedih. Ternyata yangti baru saja bertemu dengan wanita itu di stasiun. Ketika yangti menawarkan pekerjaan dì jakarta, wanita itu langsung menyanggupi. "Saya pengen pergi jauh dari surabaya bu secepatnya". Entah rasa iba atau rasa lain yang tak dapat diungkapkan, yangti pun mempercayai wanita itu. Dan ikutlah wanita yang kemudian dikenal dengan panggilan bude itu bersama kami hijrah ke jakarta.
Waktu terus bergulir, hingga pada suatu siang datanglah tamu yang merupakan saudara bapak saya. Tanpa disengaja ternyata kedatangan tanu itu mengungakap siapa sebenarnya Bude. Selama bekerja dengan keluarga saya Bude tak pernah cerita siapa dia, bagaimana keluarganya, dimana kampungnya, bahkan bude pun tidak pernah ijin pulang kampung, yaaa.. Ibu saya tidak mempersoalkan hal tersebut, karena kinerja bude sangat baik. Hingga akhirnya, saudara bapak itu bercerita tentang tetangganya yang perwira polisi itu selingkuh hingga istri pertamanya kabur entah kemana dan ternyata istri pertama polisi itu adalah Bude. Whatttttt???
Bener-bener gak disangka Namun jika menoleh ke belakang mengingat pertemuan pertama dengan bude dì stasiun, bude yang tampak lusuh dan punya keinginan pergi sejauh mungkin dari surabaya, semua itu seperti memberitahu apa alasan bude ingin sejauh mungkin meninggalkan surabaya.
Sakit hati... Sakit hati yang begitu dalam, membuat bude pergi meninggalkan masa lalunya dan mengubur jejaknya dalam-dalam, bahkan bertahun-tahun bude melupakan anak kandungnya sendiri.
Memang bude nampaknya lebih menyayangi saya dan kedua adik saya dibanding anak kandungnya sendiri. Bahkan gaji bude kadang habis demi memanjakan saya dan adik-adik saya. Bude membelikan baju, alat tulis, jajanan, semua yang dilarang oleh kedua orang tua saya.
Lucunya bude itu gak pernah betah berlama-lama pulang kampung, paling lama hanya 3 hari lalu bude kembali, alasannya "kasian anak-anak" padahal kalau dipikir lebih kasihan anaknya bude.
Bude itu ibarat ibu pengganti buat saya dan adik-adik, percaya atau tidak ketika adik-adik saya ada masalah dì sekolah bude yang mencari tahu dan mencoba menyelesaikannya tanpa memberi tahu kedua orangtua saya, ketika saya dan adik-adik saya bingung mengerjakan pr sementara ibu-bapak belum pulang, bude langsung pergi ke rumah teman sekelas saya untuk minta mengajarkan saya menyelesaikan pr. Ketika adik saya susah makan dan minta semur jengkol (adik saya yang ini emang ajaib, cantik-cantik tapi hobinya makan pete dan jengkol) padahal itu udah malam ditambah lagi ibu bapak belum pulang kerja, bude pergi mencarikan semur jengkol supaya adik saya mau makan. Ketika saya menghadapi ujian kelulusan SD, pulang sekolah bude memebri saya segelas air putih yang katanya sudah didoain pak Haji supaya nilai Ebtanas saya bagus dan bisa masuk SMP unggulan. Ketika adik bungsu saya merengek-rengek minta dibelikan sesuatu bude pun mengabulkannya (selalu). Padahal saya dan adik-adik saya belum bisa mewujudkan cita-cita bude pengen naik pesawat. Dan sepertinya cita-cita saya dan adik-adik saya untuk membahagiakan bude tidak akan pernah bisa terwujud lagi semenjak kami mendatangi rumah bude menjelang lebaran kemarin.
Rumah bude dipinggir pantai, dipinggiur jalan raya utama yang menghubunngkan. Semarang dengan Surabaya. Sudah menjadi kebiasaan setiap tahun menjelang lebaran kami selalu mampir rumah bude, dari semenjak bude masih bekerja dengan kami sampai bude sudah pensiun dari pekerjaannya dikarenakan penyakit yang dideritanya. Karena sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, bude pun sepertinya hafal dengan kedatangan kamu, bude keluar dari rumah dan menunggu dì depan pintu. (Beberapa tahun terakhir kondisi bude setelah terserang stroke sungguh menyedihkan, saya dan keluarga gak tega ngeliatnya, bude yang dulu genduty jadi kurus dan hitam, rambutnya pun sudah memutih, bude itu orangnya susah dikasih tau, waktu sakit pertama kali, keluarga saya sudah membawa bude ke dokter, tapi bude bukan orang yang percaya dokter, semua obat-obatan dibuang dan bude minta dijemput keluarganya pulang, dari dulu bude lebih percaya dukun dibanding dokter) Namun saat kami tiba kemarin, bude gak menyambut kami dì pintu rumahnya seperti biasanya, ada apa gerangan. Kakak ipar bude dan anak bude lah yang menyambut kedatangan kami. Lalu Pak Edi (kakak ipar bude) mengajak aku masuk ke dalam rumah sambil memeagang bahuku lalu menyuruhku duduk dì kursi, lalu secara perlahan dia bicara padaku "Nduk, bude mu wis gak ono, saiki wis 100hari bude mu gak ono". Sedetik dua detik tiga detik saya masih belum bisa mencerna kata-kata pak Edi barusan, sampai menantu bude datang dan mengulang kata-kata pak Edi barusan.
Dì dalam rumah bude, baru ada ibu dan aku, sementara Bapak , Adhan dan adik-adikku belum masuk rumah. Kata-kata yang diucapkan menantu bude seperti petir dì siang bolong, saya dan ibu larut dalam sedih dan kami pun menangis sesenggukan. Kemudian Bapak, Adhan dan kedua adik saya yang baru masuk rumah tampak heran melihat saya dan ibu menangis. Begitu kedua adikku tahu apa yang terjadi, mereka pun lalu menangis.
Bude... Padahal kami sekeluarga awalnya gak niat mudik lebaran, tapi karena kepikiran bude dan yangti akhirnya kami mudik lebaran.
Bude... Padahal anis dan dek ria udah nyiapin hadiah lebaran untuk bude.
Bude... Anis, dek ria & dek rizky berencana ngajak bude naik pesawat dari surabaya ke jakarta pas nikahan anis nanti.
Bude... Anis tau bude gak pernah percaya sama dokter, tapi sebagai dokter anis mau berusaha mengobati bude, anis bisa jadi dokter juga karena jasa bude yang ngerawat anis dari kecil.
Bude... Anis, dek ria & dek rizky punya cita-cita mau ngeberangkatin bude naik haji.
Bude... Anis pengen setelah anis menikah dan punya anak, bude yang ngerawat anak anis, karena setelah bude gak kerja dì rumah, belum pernah ada ART yang sehebat bude, yang gak hanya ngurusin urusan dapur, bersih-bersih rumah, nyuci dan nyetrika, tapi semua urusan keluarga bisa bude tangani. Bude memang benar-benar andalan keluarga.
Terlalu banyak kisah bersama bude yang mungkin jika ditulis kisahnya gak akan pernah ada habisnya.
Bude terlalu banyak kesalahanku padamu, padahal begitu besar jasamu, maafin anis ya bude

Air mata yang jatuh semakin lama semakin bertambah deras, ketika mbak Ririn (anak bude) bercerita kalau bude bilang habis lebaran anis nikah dan nanti bude mau dijemput diajak ke jakarta nyaksiin pernikahan anis. Selain itu mbak ririn juga cerita kalo bude manggil cucu dengan nama saya "anis" padahal nama cucu bude bukan anis ‎​ƪ(-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)ʃ‎​‎​

Sebenarnya beberapa bulan yang lalu, adik saya yang bungsu dan kuliah dì Malang, tengah malam menelpon karena pengen ketemu bude, alasan adik saya dia baru saja mimpiin bude, dan adik saya menjadi penasaran dengan keadaan bude, apakah bude masih ada atau tidak. Dan ternyata nomor telpon anak dan menantu bude hilang, namun rupanya menantu bude juga mengalami hal yang sama, jadi ketika bude serangan stroke ke2, menantu bude bingung bagaimana cara memberitahu kami dì jakarta, mungkin mimpi adik saya itulah pertanda.
Gak ada yang pernah tahu rahasia اَللّهُ gak ada yang tahu kalo lebaran tahun lalu adalah kenangan terakhir kami bersama bude, saat itu bude banyak tersenyum dan meluk adik bungsu saya terus-terusan. Pada saat itu kami sempat foto bersama bude, namun karena fotonya pake hp dan lupa mindahin ke komputer, waktu hp rusak hilang semua lah foto-foto kenangan terakhir bersama bude itu. Meskipun foto kenangan terakhir itu hilang, tapi bude gak pernah hilang dì hati saya dan keluarga saya.

Terima kasih bude untuk pengorbanan dan jasa-jasamu selama kurang lebih 20tahun bersama keluarga kami, mungkin kami belum sempat membalas semua kebaikanmu bude, namun dì setiap doa yang terucap kami memohon agar اَللّهُ membalas semua kebaikan mu bude, melipat gandakan amal kebaikan dan pahalamu, menghapus dosa-dosamu, melapangkan dan menerangi kuburmu bude ‎​ƪ(-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)ʃ‎​‎​ selamat jalan bude, semoga engkau bahagia disana.
Aamiin ya rabbal alamiin...

Sabtu, 27 Agustus 2011 / 11pm/ jalan raya tuban-lamongan menuju Surabaya

No comments: